¬Hap..! Wi-Fi Ditangkap!

Adakah sesuatu yang dapat membantu kita mencari data, artikel, berita, atau berhubungan dengan orang-orang di seluruh dunia? Sesuatu yang memudahkan kita dalam mencari hal-hal seperti gambar, musik, video, atau bahkan teman? Internet jawabannya. Akses yang didapat ketika seseorang terkoneksi ke dunia maya ini nyaris tak terbatas. Oleh karena itu, internet menjadi bagian penting dari kehidupan modern ini. Terlebih lagi pada kehidupan mahasiswa. Mahasiswa nyaris tak bisa lepas dari internet, mulai dari mencari bahan untuk tugas, mengirimkan tugas pada dosen, sampai mengikuti kuliah online.
Sebagian mahasiswa UGM menggunakan—atau tepatnya membeli—jasa internet dari warnet. Namun, sebagian mahasiswa lain yang memiliki laptop atau notebook lebih memilih menggunakan fasilitas Wi-Fi yang tersedia di berbagai tempat di area kampus UGM. Kenapa? Karena selain alasan utama berupa biaya koneksi yang cuma-cuma, koneksi internet melalui fasilitas Wi-Fi ini terbukti lebih cepat dari koneksi internet melalui kabel.
Namun muncul beberapa masalah seperti pengguna laptop harus mencari area hotspot yang berada di beberapa tempat di UGM, yang berarti si pengguna laptop harus meluangkan waktunya untuk pergi ke hotspot tersebut. Belum lagi ketika baterai laptop mulai berteriak-teriak kehabisan tenaga dan tidak ada stop-kontak di sekitar area tersebut.
Hal-hal tersebut sebenarnya tidak lepas dari pemahaman tentang luas area hotspot yang salah. Sebagian besar orang mengira bahwa area yang dapat dijangkau Wi-Fi hanya sekitar beberapa meter, padahal sebenarnya jangkauan Wi-Fi mencapat beberapa kilometer, namun sinyalnya terlalu lemah untuk ditangkap perangkat Wi-Fi pada laptop atau PC.
Sinyal yang lemah dapat diakali dengan menggunakan antena Wi-Fi seharga sekitar USD 100. Dari jarak beberapa kilometer, antena Wi-Fi ini dapat menangkap sinyal wireless network.

Harga antena sejenis itu tentu saja sangat mahal untuk ukuran orang Indonesia, apalagi bagi mahasiswa yang notabene adalah makhluk paling hemat di dunia. Oleh karena itu, para hacker tidak menyerah begitu saja, mereka mengakali keterbatasan biaya dengan menggunakan alat-alat murah untuk dijadikan antena Wi-Fi. Alat apa sajakah itu? Kaleng, payung, saringan mie, penggorengan, dan alat-alat dapur lainnya! Dengan perhitungan yang teliti, mereka berhasil menemukan ukuran kaleng yang cocok untuk dijadikan antena.
Kalau ingin sedikit repot, antena dapat dibuat dari kaleng, namun proses mengukur dan melubangi kaleng sepertinya agak sulit kalau tidak memiliki peralatan yang memadai. Antena Wi-Fi dari kaleng membutuhkan Orinoco card dan kabel pig tail. Kalau ingin cara yang benar-benar mudah, cukup menggunakan saringan mie, penggorengan, atau alat dapur lainnya yang berbentuk seperti parabola. Cukup dengan USB Wi-Fi Adaptor dan sedikit pengukuran, jadilah antena yang murah meriah.

Banyak yang sudah mencoba dan berhasil mendapat sinyal Wi-Fi dari jarak yang cukup jauh. Kalau ingin mencoba, anda dapat mencari tutorialnya di http://www.turnpoint.net/wireless atau http://www.usbwifi.orcon.net.nz. Selain itu, masih banyak tutorial atau artikel lainnya tentang Wi-Fi, cari saja lewat search engine, masih banyak yang akan anda temukan. (ad/dari berbagai sumber)